Oase
Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh Selamat Datang Di Blog Seuntai Kenangan

Kamis, 15 Agustus 2024

Sebuah Kalung yang Hilang dan Takdir Allah

Ada seorang pria bernama Abu Bakar Al Anshari, yang juga biasa disebut Qadi Al Maristani.

Dia dikenal sebagai orang yang sangat saleh di Makkah. Hal itu karena ketakwaannya; ia merupakan orang yang selalu berusaha menjauhkan diri dari kemurkaan Allah SWT.

Kalung Mutiara yang Hilang
Beliau berkata: “Suatu hari aku berada di jalan Makkah. Saya merasa lapar dan saya mencari makanan. Saya menemukan sebuah tas dengan kalung mutiara yang sangat mahal di dalamnya.”

Kalung itu bukan miliknya, jadi Abu Bakar menutup tas tersebut, membawanya pulang untuk berjaga-jaga jika pemiliknya datang, dan dia kembali ke jalan untuk mencari makanan.

Kemudian, ia mendengar seorang pria berteriak bahwa ia telah kehilangan kalung mutiara, dan ia menawarkan hadiah. Imbalan yang besar bagi siapapun yang dapat menemukannya.

Jadi, Abu Bakar mendatangi orang tersebut dan berkata: “Lihatlah, saya telah menemukan kalung itu, tetapi Anda harus menggambarkannya kepada saya, sehingga saya dapat mengetahui apakah ini milik Anda atau bukan.”

Ketika pria itu mendeskripsikan dengan sempurna, ia mengembalikan kalung tersebut kepadanya. Orang itu mencoba untuk membayarnya dengan hadiah, tetapi Abu Bakar menolak.

Abu Bakar berkata kepada pemilik kalung itu:“Aku tidak melakukan apapun untuk ini, aku tidak mendapatkannya, aku mengembalikan apa yang menjadi milikmu, oleh karena itu aku tidak merasa benar mengambil rezeki karenanya.”

Mencari Kehidupan yang Lebih Baik
Abu Bakar, yang akhirnya menyadari bahwa dia tidak dapat menemukan pekerjaan dan rezeki di Makkah, memutuskan untuk pergi merantau.

Dia memilih untuk naik kapal pergi ke tempat lain seperti yang dikatakan Allah, “Jika kamu tidak dapat mencapai suatu tempat, bumi ini luas, pergilah ke tempat lain.”

Tiba-tiba, badai besar datang dan menghancurkan kapal tersebut. Tak sedikit dari penumpang kapal tersebut yang hanyut dan hilang ditelan lautan. Abu Bakar berkata:

“Untungnya saya dapat meraih sepotong kayu apung, dan angin meniup saya, dan meniup saya, dan meniup saya ke sebuah pulau.”

Ketika sampai di pulau itu, dia mencari orang-orang. Ia tidak dapat menemukan mereka, lalu ia melihat ada sebuah Masjid. Dia masuk dan duduk dan mulai membaca Al-Quran dengan indahnya.

Orang-orang di pulau itu mulai mendengar lantunan Al-Quran yang indah dan merdu itu. Mereka pergi untuk melihat siapa orangnya, dan mereka menemukan Abu Bakar di dalam Masjid, sedang membaca Al-Quran. Dan mereka berkata kepadanya:

“Engkau tahu bagaimana cara membaca Al-Quran dengan indah, maukah engkau mengajari kami dan anak-anak kami bagaimana cara melakukannya? Dan kami akan membayarmu dan memberimu tempat tinggal.”

Dia setuju dan mereka mulai menggajinya, hingga dia dapat memiliki sebuah rumah di sana, dan dia melakukan hal ini untuk sementara waktu.

Kemudian, suatu hari, dia duduk di masjid sambil membaca beberapa halaman Al-Quran yang tergeletak di masjid. Dan orang-orang berkata kepadanya:

“Ajarilah kami dan anak-anak kami membaca dan menulis, maka kami akan menaikkan gajimu dan menggajimu lebih banyak lagi.”

Maka mereka mulai menaikkan gajinya, mengupahnya dengan lebih banyak lagi. Sehingga dia kembali tinggal bersama mereka untuk sementara waktu.

Allah SWT adalah Perencana Terbaik
Hingga akhirnya Abu Bakar merasa ia sudah cukup lama menetap di tempat itu.

“Saya sudah cukup lama di sini, saya ingin meneruskan perjalanan hidupnya. Pindah ke tempat lain.”

Orang-orang menyadari bahwa Abu Bakar akan pergi, sedangkan mereka tidak ingin dia pergi. Jadi mereka berkata:

“Kita harus mempertahankannya di sini.” Maka mereka menyusun rencana yang sangat bagus untuk membujuknya agar tidak meninggalkan mereka. Mereka berkata:

“Jika kita menikahkannya, dia tidak akan pergi kemana-mana.”

Ada seorang gadis, dikenal sebagai salah satu yang paling cantik, saleh, dari keluarga yang paling dekat kepada Allah. Seorang gadis yang baru saja menjadi yatim piatu.

Jadi, mereka mencoba menikahkannya dengan gadis itu dan ia menolak, kemudian mereka berdebat lagi dan lagi sampai akhirnya Abu Bakar setuju untuk menikah.

Pernikahan pun dilangsungkan, dan Abu Bakar dipertemukan dengan sang pengantin wanita.

Sesaat setelah menatap wanita yang kini menjadi istrinya, tiba-tiba Abu Bakar menundukkan kepalanya. Air mata bercucuran dari wajahnya.

Ketika mereka bertanya kepadanya mengapa dia menangis, Abu Bakar berkata:

“Alasannya adalah karena saya telah mengenali kalung yang dikenakannya. Aku menemukan kalung ini di jalan Makkah suatu hari, dan aku mengembalikan kalung itu kepada pemiliknya.” Mereka berkata:

“Ayahnya adalah pemilik kalung ini. Dan kami sering mendengarnya berbicara tentang pria yang ia temui di Makkah, yang merupakan salah satu Muslim paling saleh dan jujur yang pernah ia temui selama hidupnya; kami sering mendengarnya berdoa secara terbuka kepada Allah, agar pria itu menikah dengan putrinya. Dan di sinilah engkau.”

Dan dia menikah dengannya, dia mendapatkan anak, dan dia menjadi sangat kaya.

Meyakini Rencana Allah SWT
Anda tahu, ketika Abu Bakar Al Anshari terombang-ambing di atas kayu apung di lautan, saya yakin dia tidak bisa memahami rencana Allah SWT. Dia tidak menyadari apa yang sedang terjadi.

Sedikit yang ia ketahui bahwa meski ia memiliki rencana, Allah SWT juga memiliki rencana lain untuk menjawab doa sang ayah. Dan Abu Bakar tidak melakukan apa-apa selain dituntun menuju tujuan itu oleh Allah SWT.

Jadi Abu Bakar punya rencana dan Allah SWT juga punya rencana. Dan mungkin Abu Bakar tidak melihatnya. Tapi, hal itu terjadi sebagaimana mestinya.

Anda tahu, begitulah kehidupan terkadang. Kadang-kadang tidak terlihat seperti berjalan dengan baik, tapi Allah SWT punya rencana.* hidcom

Baca Selengkapnya..

Selasa, 19 Maret 2024

Renungan Kematian sebelum Mati.

Konon orang yang mati awalnya tidak menyadari bahwa dirinya mati. Dia merasa dirinya sedang bermimpi mati. Dia melihat dirinya ditangisi, dimandikan, dikafani, dishalati hingga diturunkan ke dalam kubur. Dia merasa dirinya sedang bermimpi saat dirinya ditimbun tanah. Dia berteriak-teriak tapi tidak ada yang mendengar teriakannya.

Beberapa waktu kemudian, saat semua sudah pulang meninggalkannya sendirian di bawah tanah, Allah kembalikan ruhnya. Dia membuka mata, dan terbangun dari “mimpi” buruknya.

Dia senang dan bersyukur, bahwa ternyata apa yang dia alami hanyalah sebuah mimpi buruk, dan kini dia sudah bangun dari tidurnya. Kemudian dia meraba badannya yang hanya diselimuti kain sambil bertanya kaget:

“Dimana bajuku? Kemana celanaku?” Lalu dia meraba sekelilingnya yang berupa tanah “Dimanakah aku? Tempat apa ini? Kenapa bau tanah dan lumpur?” Kemudian dia mulai menyadari bahwa dia ada di bawah tanah, dan sebenarnya apa yang dialaminya bukanlah mimpi! Ya, dia sadar bahwa dirinya benar-benar telah mati.

Berteriaklah dia sekeras-kerasnya, memanggil orang-orang terdekatnya yang dianggap bisa menyelamatkannya:


“Ibuuuuu….!!!!”
“Ayaaaaaah…!!!!”
“Kakeeeeek!!!”
“Neneeeek!!”
“Kakaaaaak!!!”
“Sahabaaaaat!!!”

Tidak ada seorangpun yang menjawabnya. Dia yang selama ini lupa pada Allah pun ingat bahwa ALLAH adalah satu-satunya harapan.

Menangis lah dia sambil meminta ampun, “Ya, Allaaaaaaah…. Ya Allaaaaaaah…. Ampuni aku ya Allaaaaaaah….!!!”

Dia berteriak dalam ketakutan yang luar biasa yang belum pernah dirasakan sebelumnya sepanjang hidupnya.

Jika dia orang baik, akan muncullah dua malaikat dengan wajah tersenyum dan akan mendudukkannya dan menenangkannya, menghiburnya dan melayaninya dengan pelayanan yang terbaik.

Jika dia orang buruk, akan datang dua malaikat dengan wajah bengis yang akan menambah ketakutannya dan akan menyiksanya sesuai keburukannya.

Pertolongan Al-Quran di Alam Kubur

Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

“Tiada penolong yg lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat daripada Al-Qur’an. Bukan nabi, bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya.” (Abdul Malik bin Habib-Syarah Ihya)

Al Bazzar meriwayatkan dalam kitab La’aalli Masnunah bahwa jika seseorang meninggal dunia, ketika orang – orang sibuk dengan kain kafan dan persiapan pengebumian di rumahnya, tiba -tiba seseorang yang sangat tampan berdiri di kepala mayat. Ketika kain kafan mulai dipakaikan, dia berada di antara dada dan kain kafan.

Setelah dikuburkan dan orang – orang mulai meninggalkannya, datanglah 2 malaikat. Yaitu Malaikat Munkar dan Nakir yang berusaha memisahkan orang tampan itu dari mayat agar memudahkan tanya jawab.

Tetapi si tampan itu berkata: “Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan bagaimanapun aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan utk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dari orang ini sehingga ia dimasukkan ke dalam surga.”

Lalu ia berpaling kepada sahabatnya dan berkata, “Aku adalah Al Quran yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan. Jangan khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan.”

Setelah para malaikat itu selesai memberi pertanyaan, ia menghamparkan tempat tidur dan permadani sutera yang penuh dengan kasturi dari Mala’il A’la (Himpunan Fadhilah Amal : 609)

llahu Akbar, selalu saja ada getaran haru selepas membaca hadits ini. Getaran penuh pengharapan sekaligus kekhawatiran. Getaran harap karena tentu saja mengharapkan Al-Quran yang kita baca dapat menjadi pembela kita di hari yang tidak ada pembela. Sekaligus getaran takut, kalau-kalau Al-Quran akan menuntut kita.

Banyak riwayat yang menerangkan bahwa Al-Quran adalah pemberi syafa’at yang pasti dikabulkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ya Allah, ampunilah dosa kami, dosa ibu bapak kami, keluarga kami, saudara kami dan seluruh kaum muslimin, Ya Allah, jangan Engkau cabut nyawa kami saat tubuh kami tak pantas berada di SurgaMu. Aamiin.

Baca Selengkapnya..