Oase
Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh Selamat Datang Di Blog Seuntai Kenangan

Jumat, 30 Maret 2018

Indahnya Istri shalihah

Rumah tangga bahagia? wah siapa yang tak kepingin? Ini sebuah kisah perjalanan rumah tangga seorang istri yang mencintainya suaminya semata-mata karena cintanya kepada Allah Hari itu merupakan hari bahagiaku, alhamdulillah. Aku telah menyempurnakan separo dienku: menikah. Aku benar-benar bahagia sehingga tak lupa setiap sepertiga malam terakhir aku mengucap puji syukur kepada-Nya. Hari demi hari pun aku lalui dengan kebahagiaan bersama istri tercintaku. Aku tidak menyangka, begitu sayangnya Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadaku dengan memberikan seorang pendamping yang setiap waktu selalu mengingatkanku ketika aku lalai kepada-Nya. Wajahnya yang tertutup cadar, menambah hatiku tenang. Yang lebih bersyukur lagi, hatiku terasa tenteram ketika harus meninggalkan istri untuk bekerja. Saat pergi dan pulang kerja, senyuman indahnya selalu menyambutku sebelum aku berucap salam. Bahkan, sampai saat ini aku belum bisa mendahului ucapan salamnya karena selalu terdahului olehnya. Subhanallah. Wida, begitulah nama istri shalihahku. Usianya lebih tua dua tahun dari aku. Sekalipun usianya lebih tua, dia belum pernah berkata lebih keras daripada perkataanku. Setiap yang aku perintahkan, selalu dituruti dengan senyuman indahnya. Sempat aku mencobanya memerintah berbohong dengan mengatakan kalau nanti ada yang mencariku, katakanlah aku tidak ada. Mendengar itu, istriku langsung menangis dan memelukku seraya berujar, “Apakah Aa’ (Kakanda) tega membiarkan aku berada di neraka karena perbuatan ini?” Aku pun tersenyum, lalu kukatakan bahwa itu hanya ingin mencoba keimanannya. Mendengar itu, langsung saja aku mendapat cubitan kecil darinya dan kami pun tertawa. Sungguh, ini adalah kebahagiaan yang teramat sangat sehingga jika aku harus menggambarkanya, aku tak akan bisa. Dan sangat benar apa yang dikatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dunia hanyalah kesenangan sementara dan tidak ada kesenangan dunia yang lebih baik daripada istri shalihah.” (Riwayat An-Nasa’i dan Ibnu Majah). Hari terus berganti dan tak terasa usia pernikahanku sudah lima bulan. Masya Allah. Suatu malam istriku menangis tersedu-sedu, sehingga membangunkanku yang tengah tertidur. Merasa heran, aku pun bertanya kenapa dia menangis malam-malam begini. Istriku hanya diam tertunduk dan masih dalam isakan tangisnya. Aku peluk erat dan aku belai rambutnya yang hitam pekat. Aku coba bertanya sekali lagi, apa penyebabnya? Setahuku, istriku cuma menangis ketika dalam keadaan shalat malam, tidak seperti malam itu. Akhirnya, dengan berat hati istriku menceritakan penyebabnya. Astaghfirullah…alhamdulillah, aku terperanjat dan juga bahagia mendengar alasannya menangis. Istriku bilang, dia sedang hamil tiga bulan dan malam itu lagi mengidam. Dia ingin makan mie ayam kesukaanya tapi takut aku marah jika permohonannya itu diutarakan. Terlebih malam-malam begini, dia tidak mau merepotkanku. Demi istri tersayang, malam itu aku bergegas meluncur mencari mie ayam kesukaannya. Alhamdulillah, walau memerlukan waktu yang lama dan harus mengiba kepada tukang mie (karena sudah tutup), akhirnya aku pun mendapatkannya. Awalnya, tukang mie enggan memenuhi permintaanku. Namun setelah aku ceritakan apa yang terjadi, tukang mie itu pun tersenyum dan langsung menuju dapurnya. Tak lama kemudian memberikan bingkisan kecil berisi mie ayam permintaan istriku. Ketika aku hendak membayar, dengan santun tukang mie tersebut berujar, “Nak, simpanlah uang itu buat anakmu kelak karena malam ini bapak merasa bahagia bisa menolong kamu. Sungguh pembalasan Allah lebih aku utamakan.” Aku terenyuh. Begitu ikhlasnya si penjual mie itu. Setelah mengucapkan syukur dan tak lupa berterima kasih, aku pamit. Aku lihat senyumannya mengantar kepergianku. “Alhamdulillah,” kata istriku ketika aku ceritakan begitu baiknya tukang mie itu. “Allah begitu sayang kepada kita dan ini harus kita syukuri, sungguh Allah akan menggantinya dengan pahala berlipat apa yang kita dan bapak itu lakukan malam ini,” katanya. Aku pun mengaminkannya.* (Kusnadi Assaini/Hidayatullah)
Baca Selengkapnya..

Minggu, 30 Januari 2011

Kebesaran Hati

Ada seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang dirundung masalah. Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya. Pak tua bijak hanya mendengarkan dengan seksama, lalu ia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air.

Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas dan di aduk perlahan.

“Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya?” ujar pak tua

“Pahit sekali” jawab pemuda

Pak tua itu tersenyum, mengajak pemuda itu utuk berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya. Mereka berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga yg tenang itu.

Sesampai disana, Pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.

“Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah”

Saat si pemuda mereguk air itu, Pak tua bertanya lagi, “Bagaimana rasanya?”

“Segar” sahut si Pemuda

“Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu?” tanya pak tua

“Tidak” sahut Pemuda

Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata “Anak muda…Dengarkan baik-baik,

Pahitnya kehidupan sama seperti segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnyapun sama dan memang akan tetap sama.

Tapi kepahitan yg kita rasakan sangat tergantung dari wadah yg kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkannya.

Jadi saat Anda merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, Hanya ada satu yg Anda dapat lakukan, Lapangkanlah dadamu menerima semuanya itu, Luaskanlah hatimu utuk menampung setiap kepahitan itu”

Hatimu adalah wadah itu.
Perasaanmu adalah tempat itu.
Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya.

“Jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yg mampu menampung setiap kepahitan itu, d merubahnya menjadi kesegaran dan kedamaian.*syakirin.net
Baca Selengkapnya..

Jumat, 27 November 2009

Umur yang Mencair Seperti Es

Cepat sekali waktu berlalu. Mengalir tak pernah berhenti. Jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik, bergerak. Waktu tak dapat ditunda, tak dapat ditahan dan tak mungkin ada yang mampu mengulang. Itu artinya, usia kita pun berkurang. Kita... semakin dekat ke liang lahat. Saudaraku, entah, apakah pertambahan dan perguliran waktu itu, berarti mendekatkan diri kita pada kenikmatan surga. Atau mendekatkan kita pada kesengseraan neraka. Nauzubillah..

Rasulullah saw. Menyifatkan cepatnya perjalanan waktu kehidupan seperti perjalanan seorang musafir yang hanya sejenak berhenti di bawah pohon di tengah perjalanan yang amat panjang. Para ulama juga banyak menguraikan ilustrasi tentang hidup yang amat singkat ini. "Umurmu akan mencair seperti mencairnya es, " kata Imam Ibnul Jauzi. (Luthfu fil Wa'z, 31)

Saudaraku, sahabatku,
Semoga Allah memberkahi sisa usia kita, Permasalahan terbesar setiap orang adalah ketika kecepatan umur dan waktu hidupnya tidak seiring dengan kecepatannya untuk menyelamatkan diri dari penderitaan abadi di akhirat. Ketika, usia yang sangat terbatas itu tidak berfungsi sebagai pelindung diri dari beratnya adzab dan siksa Allah swt. Di saat, banyaknya hembusan dan tarikan nafasnya tak sebanding dengan upaya dan jihadnya untuk terhindar dari lubang kemurkaan Allah. Ketika, jumlah detak jantung dan aliran darah yang di pompa di dalam tubuhnya, tak sebanyak gerak dan tingkahnya untuk menjauhi berbagai kemaksiatan yang dapat memunculkan kesengsaraan akhirat.

Saudaraku,
Sesungguhnya jiwa kita adalah milik Allah dan kepada-Nya lah jiwa ini akan kembali....
Suasana hati seperti inilah yang perlu kita tumbuhkan. Adakah di antara kita yang tidak mempunyai dosa? Atau merasa mampu menebus kotoran dan dosa yang telah dilakukan selama puluhan tahun usia yang telah lewat? Tentu tidak. Perasaan kurang, merasa banyak melakukan kemaksiatan, lalu menimbulkan penyesalan adalah bagian dari pintu-pintu rahmat Allah yang akan mengantarkan kita pada taubat. Suasana hati seperti inilah yang akan mendorong pemilikinya bertekad mengisi hari dengan amal yang lebih untuk menebus kesalahan yang lalu.

Saurdaraku, mari menangguk pahala, meraih rahmat dan ampunan Allah sebanyak-banyaknya sekarang juga. Perbanyaklah dzikir, bersedekah, berjihad dan beramal shalih...Tak ada kata terlambat untuk melakukan kebaikan. Sekarang dan jangan tunda-tunda lagi niat baik kita.... Semoga Allah meneguhkan kekuatan kita untuk melakukan kebaikan yang kita niatkan...
Amiiin. *dudung.net

Baca Selengkapnya..

Rabu, 18 November 2009

Sumpah Palsu.

Akhir-akhir ini kita sering mendengar para pejabat negara mengobral sumpah atas nama Allah, bahwa mereka tidak bersalah dalam perkara yang akan menjeratnya. Dalam kehidupan kita sehari-hari pun, rasanya tidak jarang kita temui kata-kata sumpah, seperti demi Allah, dan lainnya.

Sumpah merupakan sesuatu yang sakral dan suci, karena dengan sumpah berarti seseorang telah menjadikan Allah sebagai jaminan atas kebenaran apa yang diungkapkannya. Oleh karena itu, apabila seseorang melakukan sumpah palsu, berarti ia menggunakan kesucian nama Tuhan untuk urusan yang buruk. Tindakan ini termasuk dalam kategori dosa besar.

Rasulullah SAW bersabda, `'(Di antara) dosa-dosa besar ialah menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh orang, dan sumpah palsu,'` (HR Bukhari). Beliau juga bersabda, `'Barangsiapa bersumpah, dan dia berdusta dalam sumpah itu, untuk memakan harta seorang Muslim, maka dia pasti bertemu dengan Allah (pada hari kiamat nanti) dalam keadaan murka,'` (Muttafaq alaihi). Sementara itu Alquran menggambarkan orang yang melanggar sumpah atau mengucapkan sumpah palsu, ibarat perempuan yang dengan tangannya sendiri memorak-porandakan hasil pintalan yang telah ditenunnya dengan rapi.

Firman Allah SWT, `'Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian)-mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.'` (QS an-Nahl [16] : 92).

Ayat ini diturunkan ketika banyak terjadi pelanggaran sumpah di kalangan bangsa Arab di sekitar Makkah dan Madinah. Sayyid Sabiq dalam kitab Fikih Sunnah menjelaskan, sumpah palsu dalam tradisi Arab disebut ghamis, karena pelakunya kelak akan dibenamkan ke dalam neraka jahannam. Tidak ada perbuatan yang dapat menghapuskan dosa ini kecuali dengan taubat dan mengembalikan hak-hak orang yang direbutnya.

Di dalam Islam, penerapan sumpah dimaksudkan untuk melindungi jiwa dan harta seseorang dari ancaman orang lain. Dahulu sumpah dapat menyelesaikan permasalahan yang melibatkan jaringanjaringan pelaku kejahatan yang rumit. Karena semua pihak menyadari sepenuhnya bahwa sumpahnya punya implikasi di kehidupan dunia dan akhirat. Sekarang kondisinya berbeda, sumpah diucapkan oleh pelaku kejahatan yang juga memiliki otoritas mengatur hukum negara, tanpa rasa takut sedikit pun akan peringatan-peringatan agama. *Republika

Baca Selengkapnya..

Selasa, 24 Februari 2009

Perhiasan Dunia

Oleh: Imam Nur Suharno*
'Dijadikan indah pada (pandang an) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).'' (QS Ali Imran [3]: 14).

A llah SWT menjelaskan dalam ayat di atas tentang penghias kehidupan manusia. Per tama, annisa (wanita-wanita). Allah SWT menjadikan mereka sebagai penenang jiwa, raga, dan hati. Juga sebagai tempat yang menyenangkan dan penghibur nurani. (QS Arrum [30]: 21).

Dalam ayat yang lain, Allah SWT mengingatkan agar kita pun waspada terhadap wanita. Sebab, wanita bisa menjadi musuh dan penyebab yang melalaikan dari mengingatNya. (QS Attaghabun [64]: 14).

Wanita sebagai penghias kehidupan ditempatkan pada urutan pertama, karena wanita merupakan bentuk ujian terberat, di samping harta dan tahta. Kecintaan pada wanita terkadang mendorong seseorang berbuat tercela, menghalal kan berbagai macam cara dalam mendapatkan harta dan tahta.

Karenanya, Rasulullah SAW mengingatkan, ''Cobaan terbesar yang aku tinggalkan untuk umatku adalah wanita.'' (HR Ibnu Majah).

Kedua, albanun (anak-anak). Walaupun kata tersebut berbentuk mudzakkar, tapi artinya mencakup anak laki-laki dan perempuan. Penyebutan anak dengan kata albanun mengindikasikan bahwa anak laki-laki secara alami lebih diharapkan kehadirannya daripada wanita, sebagaimana kebiasaan masyarakat jahiliyah yang membedakan perhatian antara anak laki-laki dan pe rempuan. (QS Annahl [16]: 58-59).

Ketiga, alqanathir almuqantharah (harta yang banyak). Ungkapan ini mengesankan bahwa harta merupakan ujian berat, dapat menyibukkan hati ketika menikmatinya, dan dapat pula membuat hati terlena dari mengingat Allah SWT. (QS Almunafiqun [63]: 9).

Keempat, alkhail almusawwamah (kuda pilihan). Kuda merupakan simbol kendaraan yang paling disenangi dan digemari, yang memiliki keindahan, kewibawaan, kecepatan, dan kekuatan.

Kelima, al-an'am (binatang ternak). Semua jenis binatang ternak seperti unta, sapi, kambing, dan domba merupakan harta kekayaan. Melalui binatang ternak manusia memperoleh kekayaan dan penghidupan. (QS Annahl [16]: 5-7).

Dan keenam, alharts (sawah ladang). Sawah ladang adalah tempat tumbuhnya tanam-tanaman dan tumbuh-tumbuhan yang disukai, sebagai sarana kelangsungan hidup manusia.

Itu semua merupakan kesenangan hidup di dunia. Kenikmatan, kesenangan, dan segala sesuatu yang menyerupainya adalah perhiasan dunia. Bukan perhiasan kehidupan yang mulia, tapi perhiasan bumi yang dekat, dan bisa melalaikan manusia. *Republika 24 Februari 2009)

Baca Selengkapnya..

Selasa, 03 Februari 2009

Gadis Amerika itu Bersyahadah di Dalam Bis Kota

Hidayah Allah tak mengenal tempat dan waktu. Sampai-sampai membuat gadis Amerika ini bersyahadat di atas Bus Kota. Masya Allah! Halimah David kini namanya. Dia memeluk Islam tahun 2001 silam. Awalnya, semasa masih remaja, gadis Amerika ini hidup di tengah nuansa Katolik yang kental dibawah bimbingan sang ayah. Namun beranjak dewasa dia melihat ada kontradiksi dalam Kristen.

Dia pun mulai mencari kebenaran dengan mendalami berbagai agama, termasuk Islam. Dalam satu perjalanan dengan bus dari Michigan ke Colorado, untuk melanjutkan kuliah di kedokteran, dia berjumpa dengan seorang pemuda muslim asal Afrika. Dari situlah dia kenal Islam. Dan, menariknya di atas bis antar kota itu juga dia bersyahadah. Masya Allah, hidayah-Nya tak kenal tempat dan waktu. Alhasil, dia justru tertarik belajar Islam ketimbang melanjutkan studi kedokteran. Berikut kisah Halimah, yang setelah menikah memilih tinggal di rumah, mendidik anak sembari menulis buku dan juga mengasuh website Islam.

“Aku dibesarkan dalam keluarga Kristen taat. Ayahku senantiasa memberi petuah Kristen semasa membesarkanku. Dia berusaha keras mengajariku nilai-nilai Kristen,” kata Halimah David tentang latar belakang keluarganya.

"Aku banyak membaca Bibel di saat masih duduk di sekolah dasar dan mengamati sekilas ada hal yang kontradiksi di sana (missal: masalah babi). Memasuki usia 12 tahun, aku makin mengerti dan Kristen makin jauh dari hidup. Tapi aku sendiri tidak tahu apa yang musti kulakukan. Aku terus mencari dan mencari, siapa tuhanku yang sebenarnya. Berdoa agar ditunjukkan pintu kebenaran itu. Jujur, aku benar-benar bekerja keras untuk hal ini," kata dia.

Halimah menyimpan segudang pertanyaan dalam kepalanya: “Kenapa ada manusia di dunia?” atau “Untuk tujuan apa manusia diturunkan?”

Halimah berpikir dengan sistem yang begitu komplek, misal bagaimana manusia diciptakan, lalu bumi diciptakan untuk manusia, tentu ada Maha Pencipta di balik semua itu. Semisal benda, pasti ada desainernya. Atau, tatkala seseorang jalan-jalan di pantai lalu meninggalkan jejaknya di pasir. Maka pasti yang melihat akan menduga ada orang yang baru melewati jalan itu sebelumnya.

"Memasuki usia ke-19, itulah saat-saat yang kritis dalam masa pencarianku. Aku banyak mengadakan perjalanan ke berbagai tempat guna melihat aneka budaya setempat. Ini juga bagian dari proses pencarian tuhan. Kuamati ajaran Taoisme, Budha, Yahudi, Freemansory, Hindu, Animisme, serta banyak lainnya lagi. Tentu saja ajaran Kristen juga jadi bahan pembanding. Aku juga mempelajari Islam melalui literatur yang ada. Kala itu hanya satu dua halaman saja yang kupelajari. Sekilas saja, aku tidak begitu tertarik mempelajarinya lebih jauh. Kuamati Islam menyembah Allah, lalu Muhammad Nabi mereka. Itu saja. Lalu mereka shalat lima kali sehari. Apa, lima kali sehari!?," tukas dia lagi.

"Ketika itu aku mulai berpikir, ah masa sampai sebegitu banyaknya. Kapan pergi kerja, kuliah kalau sebegitu banyak musti ibadah saban hari. Begitu hatiku membatin. Waktu berlalu, aku kembali ke Amerika lagi. Usiaku sudah 21 tahun. Aku masih belum puas dengan semua agama yang telah kupelajari," kata dia heran.

Waktu terus berjalan hingga dia memutuskan untuk kuliah dan diterima di jurusan kedokteran di Universitas Colorado. Menjadi dokter memang impiannya sejak lama. "Konsekuensinya, aku harus pindah dari Michigan ke Colorado. Tak apa-apa demi masa depan," ujarnya.

Saat hari-H, Halimah menggunakan bus umum Greyhound dari Michigan ke Colorado. Perjalanan sedikit panjang dan membosankan. Syukurnya sepanjang perjalanan itu dia punya teman ngobrol dengan seorang pemuda yang dikenalnya dalam bus. Anak muda yang duduk persis di belakangnya. Ternyata dia juga hendak ke Colorado untuk melanjutkan kuliah.

“Namanya Ibrahim, asal dari Afrika. Dia ke Colorado untuk kuliah di jurusan teknik. Kamipun mulai akrab dan ngobrol ke sana kemari untuk menghilangkan rasa jenuh di perjalanan,” kata Halimah.

Yang bikin Halimah tertarik adalah tatkala Ibrahim menyebut dirinya seorang muslim. “Aku tanya apa itu Islam dan dia cerita orang Islam percaya hanya satu Tuhan yaitu Allah dan Muhammad utusan-Nya. Dia cerita juga bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir dan tak ada diturunkan Nabi lagi setelahnya. Aku makin tertarik,” imbuh Halimah.

“Aku simpulkan bahwa ajaran Yahudi berada di belakang dua Nabi, yakni Nabi Isa dan Muhammad. Dan, ajaran Kristen yang dibawa Nabi Isa berada di belakang Islam yang dibawa Nabi Muhammad,” tukasnya. Halimah seakan merasa melihat secercah kebenaran dalam Islam. Ibrahim pun menghadiahinya sebuah buku kecil berisi kumpulan zikir dan doa yang merupakan senjata orang mukmin. Halimah sempat membaca salah satu bagian dari buku itu yang berbunyi:

"Tak ada satu pun yang patut disembah kecuali Allah. Allah satu dan tak bersekutu. Dia Maha Pemilik yang memiliki segala-galanya dan dia Maha Terpuji. Dialah yang Maha Berkuasa atas segala-galanya."

Berawal dari situlah Aminah melihat Islam adalah agama yang sedikit lebih masuk akal dan mudah dimengerti dari sekian agama yang pernah dipelajarinya. Halimah lalu membaca lagi isi buku pemberian Ibrahim itu untuk mendapat petunjuk siapa itu Allah. Dia temukan kalimat lain berbunyi:

"Dengan nama Allah, tak ada sesuatu pun bisa memberikan manfaat dan mudharat baik di dunia maupun di akherat, kecuali dengan seizin Allah. Dia Maha Mendengar dan lagi Maha Mengetahui."

"Ya Allah, segala keberkahan telah banyak kami terima dari Engkau yang Maha Pencipta. Engkau tidak bersekutu. Segala puji hanya bagi-Mu. Terima kasih ya Allah."

“Seketika itu lalu aku menoleh pada Ibrahim dan menanyakannya bagaimana caranya menjadi orang Islam. Dia menyebut aku musti bersyahadah. Dia bilang setiap yang mau masuk Islam musti mengucap duaa kalimah: La ilaha illa llaah Muhammadur Rasuulullah. Hanya itu? Aku lalu dituntunnya untuk mengucap kalimat Syahadah itu. Aku pun bersyahadah saat itu juga. Ya di dalam bus Greyhound, antara Michigan dan Colorado, aku telah jadi seorang muslimah!," kenangnya.

"Subhanallah! Setelah berbincang-bincang hanya sekitar lima belas menit dengan Ibrahim aku menjadi seorang muslim. Inilah cerita tujuh tahun yang lalu,” ujar Halimah memuji Allah. Dia mengaku sangat terkesan dengan kisah keislamannya akhir tahun 2001 silam itu.

Selanjutnya, dengan serta merta dia membatalkan perjalanannya ke Colorado. “Aku tidak melanjutkan sekolah kedokteran. Aku putuskan untuk menghabiskan waktu untuk mempelajari agama yang baru kukenal itu,” kata dia lagi.

Lalu Halimah pun pindah ke Utah. Di sana dia menemukan banyak muslim dan mereka sangat gembira serta menyambut Halimah dengan hangat dan mengenalkannya pada komunitas muslim setempat. Disanalah dia menghabiskan waktu untuk mempelajari Islam secara serius dan sungguh-sungguh.

"Begitulah, setelah mengikuti berbagai kajian Islam, ada beberapa hal yang menurutku sangat penting, yakni: Musti ada Sang Pencipta, karena di dalam kehidupan nyata ada benda-benda ciptaan. Bukti bahwa Tuhan itu ada ditunjukkan melalui kumpulan orang-orang yang berkumpul dan beribadah karena merasa ada "kebutuhan" yang bersifat spiritual. Ini terlihat dari adanya aneka ragam agama dan pemeluknya," ungkapnya.

"Begitupun, kita musti mengikuti agama yang meyakini hanya satu tuhan. Karena, jika ada lebih dari satu tuhan maka otomatis akan sangat komplek dan akan terjadi chaos antara sesama tuhan. Logikanya begitu. Konsekuensinya, semua manusia bertanggungjawab untuk percaya dan yakin kepada Tuhan yang terpatri di dalam setiap diri dan jiwa mereka," pungkas dia.

"Karena itulah dasar dari dilahirkan manusia ini, untuk mengabdi kepada Sang Penciptanya. Seperti termaktub di Surah Azzariyat ayat 56: "Aku menciptakan jin dan manusia hanya untuk mengabdi kepada-Ku.", imbuhnya. Jadi saya rasa Islam hadir untuk menggantikan ajaran Kristen yang telah berbelok arah dengan ajaran Trinitasnya, Satu dalam tiga, Itu sangat tidak rasional.

Halimah juga mendapat hal menarik lain tentang Tuhan di dalam Islam, bahwa jika seseorang manusia tidak mau beribadah kepada-Nya, maka kekayaan-Nya tidak akan berkurang. Sebaliknya jika semua manusia beribadah kepada-Nya, maka kekayaan-Nya juga tidak bertambah gara-garanya hamba-Nya menyembah Dia. Allah itu Maha Sempurna. Dia tak butuh kepada benda-benda, tapi semua benda-benda ciptaan-Nya butuh, itu sebabnya semua umat manusia butuh untuk beribadah kepada-Nya.

"Inilah yang makin memantapkan hati saya untuk terus berada dalam agama yang sangat saya cintai ini. Islam sudah sangat sempurna," tutupnya.

Halimah kini telah menikah dan memilih tinggal di rumah untuk mendidik anak-anaknya. Dia juga menulis buku-buku Islam khusus untuk anak-anak. Tak hanya itu waktunya juga diisi dengan mengasuh tiga website Islam. Salah satunya khusus membahas etika bisnis di dalam Islam. Begitulah. *Hidayatullah.com

Baca Selengkapnya..